Sekolah Ambidextrous: Mewujudkan Sekolah Inovatif Yang Merdeka Dan Berkelanjutan

Belajar dan menjadi sekolah inovatif yang yang merdeka dan berkelanjutan, berarti belajar untuk menjadi sekolah yang ‘ambidextrous‘. Istilah ‘ambidextrous‘ dalam kamus digunakan untuk seseorang yang mampu menggunakan tangan kanan dan kiri sama baiknya (mis: untuk menulis). Dalam konteks organisasi dan inovasi, ambidextrous adalah kemampuan untuk menyeimbangkan penerapan fixed mindset dan growth mindset, perspektif eksploitasi dan perpektif eksplorasi atau memelihara order dan mengelola chaos. Boleh jadi ini disebut sebagai yin dan yang dalam organisasi.

Berdasarkan penelitian dari University of California2 ditemukan bahwa sebagian besar organisasi yang inovatif adalah ‘ambidextrous‘. Organisasi tersebut mampu mengintegrasikan hal yang tampak paradox seperti: fokus pada fixed mindset sekaligus growth mindset atau fokus pada pembaruan yang gradual sekaligus pada terobosan inovasi yang radikal. Yang pasti, ambidextrous bukanlah praktik yang mudah dan alami untuk diterapkan dalam organisasi, sebagaimana halnya hanya ada 1% dari populasi manusia di dunia ini yang ambidextrous secara alami.

Gaia Grant dan Andrew Grant (penulis buku “The Innovation Race”) menyebut beberapa pasangan hal yang paradox dalam organisasi tersebut sebagai 4 keys of Innovation Paradox1, yaitu:

  1. Kebebasan dan Kontrol (kebebasan yang terkendali): Menciptakan fondasi yang kokoh dan jangka panjang untuk inovasi dengan mempertanyakan asumsi, mengeksplorasi persoalan yang ambigu, memantik rasa ingin tahu dan imajinasi sekaligus juga memastikan adanya panduan yang jelas.
  2. Keterbukaan dan Fokus (keterbukaan yang terarah): Memungkinkan proses penggalian ide (ideasi) dan mendukung ide-ide produktif juga sekaligus memastikan adanya hasil yang jelas.
  3. Kolaborasi dan Kemandirian (individu yang terlibat): Memotivasi proses inovasi dan mengumpulkan ide-ide dari individu yang beragam juga kemudian mengintegrasikannya dalam kesatuan solusi yang utuh.
  4. Fleksibilitas dan Stabilitas (fleksibilitas yang membumi): Menguji dan membuat prototipe solusi yang potensial sekaligus juga bekerja keras untuk mewujudkan implementasi nya.

Dalam penelitiannya pada 50 eksekutif dari berbagai organisasi di dunia termasuk beberapa organisasi yang masuk dalam Fortune500, Gaia Grant dan Andrew Grant pun menemukan bahwa hanya sedikit organisasi yang mampu secara efektif mengelola pendekatan ambidextrous yang kontradiktif namun saling berhubungan tersebut. 98% eksekutif dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa keberhasilan organisasi yang inovatif dan mampu mengelola ambidextrous secara berkesinambungan lebih banyak ditentukan oleh faktor manusia2.

Ada fungsi-fungsi yang saling paradox dalam organisasi dan jika dikelola dengan baik justru menjadi kunci untuk mengembangkan budaya inovasi dalam organisasi. Fungsi-fungsi tersebut secara garis besar terbagi dalam 2 moda yaitu eksploitatif dan eksploratif.

Menurut Gaia dan Andrew Grant3, terkait 2 moda tersebut, ada 3 langkah yang dapat dilakukan sebuah organisasi dalam upaya menjadi organisasi yang ambidextrous, yaitu:

  1. Pisahkan kedua fungsi tersebut untuk mengidentifikasi bahwa keduanya telah dikelola secara baik dan layak.
  2. Fokus mengelola (kesempatan pengembangan) keduanya secara terpisah.
  3. Sintesakan, ciptakan kesinambungan melalui keseimbangan integrasi keduanya.

Dengan demikian, langkah Pertama berarti menemukan dan mengidentifikasi fungsi-fungsi dalam organisasi yang merupakan Innovation Paradox (eksploitatif dan eksploratif) kemudian pisahkan dengan pemikiran agar keduanya dapat dikelola secara baik dan layak.

Dalam konteks sekolah, secara fungsional, kedua fungsi eksploitatif dan eksploratif itu ada dan telah berfungsi secara terpisah. Kita tahu bahwa, manajemen dan tatakelola hal yang administratif (formal-format) yang menjunjung keteraturan adalah termasuk bagian yang bermoda eksploitatif (order) menggunakan fixed mindset, sedangkan kegiatan belajar-mengajar dan penumbuhan karakter yang sukar diukur adalah bagian yang bermoda eksploratif (chaos) menggunakan growth mindset. Kedua bagian ini memang ada dalam sekolah dan pengelolaannya telah saling terpisah, mungkin cenderung sukar dilihat keterhubungannya atau justru saling berseberangan.

Langkah ke-dua yang dapat dilakukan sebuah organisasi dalam upaya menjadi organisasi yang ambidextrous yaitu: Fokus mengelola (kesempatan pengembangan) keduanya secara terpisah. Ini berarti menempatkan fokus pada peluang pengembangan bukan pada kekakuan pemisahan fungsi eksploitasi dan eksplorasi. Dalam langkah ini, organisasi harus berpikir untuk:

  • Mengembangkan peluang ‘eksploitasi’ dengan memastikan semua struktur dan sistem/kebijakan mampu mendukung tumbuh-kembang dan perubahan, serta meyakinkan bahwa inovasi-inovasi skala kecil tetap dilakukan, dipelihara dan ditumbuhkan dengan sabar.
  • Mengembangkan peluang ‘eksplorasi’ dengan memastikan tersedianya peluang untuk senantiasa memunculkan dan menangkap ide-ide perubahan untuk perbaikan yang kemudian dapat ditransformasi menjadi inovasi atau terobosan baru dengan segera.

Dalam konteks pendidikan, fokus pengelolaan ambidextrous haruslah memperhatikan siswa, keluarga, kelas, sekolah, komunitas sekitar dan komunitas terkait yang lebih luas demi menjaga pengembangan peluang eksploitasi dan eksplorasi. Jika kita perhatikan, hal ‘ambidextrous‘ ini sebetulnya juga telah tersirat dalam UU 22/2013 tentang Sisdiknas (Bab 1 Ketentuan Umum, Angka 1) yang berbunyi:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana (à eksploitatif/fixed mindset) untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya (à eksploratif/growth mindset) untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Dengan demikian, bukankah berarti semua sekolah harus menjadi inovatif demi mengejawantahkan undang-undang tersebut? Jadi, menjadi sekolah yang ambidextrous itu sebetulnya adalah pilihan ataukah kebutuhan?

Bagian ke-tiga (terakhir) sebagai yang paling krusial yaitu: Mensintesakan, menciptakan kesinambungan melalui keseimbangan integrasi keduanya. Hal tersebut berarti organisasi harus mampu menciptakan integrasi unik antara kedua fungsi eksploitasi dan eksplorasi (hal-hal yang paradox dalam inovasi). Begitu kedua fungsi telah ditelaah, pastikan kesinambungan melalui keseimbangan dan integrasi. Periksa kembali apakah telah ada SATU VISI dan JALUR KOMUNIKASI/NEGOSIASI di antara kedua fungsi tersebut yang memastikan bahwa inovasi-inovasi kecil yang rutin-gradual dan terobosan inovatif yang baru-radikal berjalan secara simultan sebagai bahan bakar bagi pertumbuhan organisasi yang berkesinambungan dalam jangka panjang.

Menelaah hal ini, berarti sekolah hanya dapat menjadi ambidextrous jika berkomitmen untuk kembali fokus menempatkan VISI nya pada penumbuh-kembangan potensi siswa sebagai manusia muda dimana kelak akan menjadi insan yang bebas dan merdeka. Dengan demikian re-aligning VISI sekolah pun menjadi penting untuk dilakukan agar semakin yakin bahwa VISI sekolah telah terejawantahkan baik pada tataran filosofis, sistemik dan struktur, maupun tataran kultur dan praktis. Melihat keadaan alam yang beragam di Indonesia dan tantangan besar perubahan zaman, maka tidaklah mengherankan jika kemudian hanya ada segelintir sekolah yang menjadi ambidextrous dan dapat dengan baik memastikan penerapan integrasi paradox inovasi berjalan secara dinamis, seimbang dan sinambung.

Persoalannya (terutama di sekolah), kita seringkali terperangkap dalam rutinitas dalam dimensi ruang (kelas) dan waktu (jangka pendek), kita lupa untuk mengembalikan fokus pada gambar besar esensi pendidikan (yang berkesinambungan). Paulo Freire menyematkan esensi pendidikan adalah ‘membebaskan’. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa esensi pendidikan adalah ‘memerdekakan’. Driyarkara menyimpulkan esensi pendidikan dengan ‘memanusiakan manusia’. Oleh karena itu, memelihara upaya membebaskan, memerdekakan dan memanusiakan manusia seharusnya senantiasa menjadi ruh dalam mengembangkan sekolah dan bagi pengembangan segala peluang menuju sekolah ambidextrous. Jadi, sejatinya upaya menjadi ambidextrous ini bukan persoalan bagaimana menjadi yang terbaik tetapi bagaimana menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Kini, pertanyaan-nya adalah bagaimana kita selama ini menumbuhkan sekolah inovatif yang merdeka dan berkelanjutan? Apa yang dapat kita lakukan kemudian agar lebih efektif dalam mewujudkan sekolah inovatif yang merdeka dan berkelanjutan?

_______________________________________________________________________

  1. http://www.hargraves.com.au/wp-content/uploads/2018/03/Are-You-Innovation-Ready-Tirian-International.pdf
  2. http://www.hbs.edu/faculty/conferences/2015-strategy-research/Documents/Organizational%20Ambidexterity%20in%20Action.pdf
  3. http://www.hargraves.com.au/mindsets-can-fuel-sustainable-innovation/

Tinggalkan komentar